Oktober datang, kepala pusing. JRL 2hari, kamera baru datang, dan beberapa hal tetek bengek lainnya yang sepertinya akan banyak menguras kantong bulan ini. Karena itulah, sebagai anak kos yang uangnya sudah dijatah tiap bulan, saya harus pandai-pandai mengirit uang. Salah satu caranya dengan masak!
Di hari minggu yang gelap dan berangin kencang ini, saya pun memilih untuk masak ayam goreng disambelin dan tumis buncis. Tumis buncis terasa kurang maknyos gara-gara tidak ada persediaan cabe rawit di kulkas. Walaupun rasa pedasnya saya ganti dengan merica, tetap saja ada yang kurang (pecinta cabe rawit).
Selamat Makan!
Rasa ini bergemuruh. Membeludak. Layaknya kembang api yang melontarkan semua yang selama ini lelah ditahannya. Memberontak bersama. Dalam hati meneriakkan segala kegalauan dan beban yang rapi tersimpan.
Bawa aku pulang. Segera.
Aku ingin rumah.
"Homesick.
Because I no longer know where the home is."
Kings of Convenience
Mereka bilang, aku hijau. Entah karena aku terlalu bodoh atau karena aku tidak berpengalaman. Aku lebih suka menyebut diriku sedang belajar. Memahami hal baru yang sebelumnya belum pernah aku mengerti sama sekali.
Orang-orang di sekelilingku berkelakar bahwa mereka paling jago di hal yang kini aku pelajari. Katanya, ini semua gampang. Mereka tahu jawaban dari semua soal yang diberikan tanpa mencontek. Mereka hafal semua rumus dari semua contoh soal yang terpampang. Aku kagum. Aku memang hijau. Aku tak tahu apa-apa.
Lalu aku sadar bahwa teori hanyalah teori. Benar dan salah hanya milik matematika. Yang terpenting adalah cara, dan bagaimana aku mendapatkan jawabanku sendiri. Perjalanan mencari jawaban itulah yang membuatku tidak lagi hijau.
Kali ini aku tidak butuh buku. Aku tidak butuh mentor.
Aku hanya butuh orang yang mau menemaniku belajar.
.....kamu kah?
#eeaaa
